Nenek Tua itu ternyata…

Suatu hari aku pergi kekota untuk fotocopy naskah. Habis, disekitar rumahku dikomplek tidak ada yang buka fotocopy. Yah terpaksa aku harus kekota. Lama juga nunggu antrian fotokopy, maklum tempat fotocopyan itu adalah satu-satunya tempat fotocopy yang paling murah dan servicenya juga paling bagus. Jadi banyak yang memilih untuk fotocopy disana. Apalagi dikotaku Purworejo banyak sekali pelajar, bahkan ada beberapa Perguruan Tingginya tentu saja banyak yang membutuhkan fotocopy.
Lamanya menunggu antrian dengan yang mau kufotocopy tak sebanding. Aku Cuma mau fotocopy beberapa lembar saja, eh nunggunya ada setengah jam sendiri…Setelah selesai fotocopy aku mampir kewarung pinggir jalan, warteg langgananku. Mau beli perkedel dan sayur lodeh kesukaanku. Hari ini aku lagi males banget masak. Memang lagi banyak kerjaan yang harus kuselesaikan, jadi tidak sempat masak.
Lagi-lagi disini juga harus antri. Wah hari ini rizkinya lagi harus antri. Fotocopy antri, mau beli sayurpun juga harus antri. Warteg itu menjual berbagai menu masakan dari yang paling murah harganya, seribuan perpotong ( misal tahu atau tempe ) hingga yang berharga puluhan ribu rupiah untuk setiap porsinya. Pembelinyapun bukan hanya dari kalangan rakyat kecil kayak aku, namun kaum bermobilpun banyak yang datang kesini. Mereka semua harus mau sabar menunggu antrian. Masakan dari warteg ini memang termasuk enak dan murah, makanya banyak langganannya. Kecuali itu penjualnya juga sangat menjaga kebersihan. Meskipun kelas warung trotoar semua makanan ataupun masakan yang disajikan ditaruh didalam kaca atau panci yang ada tutupnya.
Warungnya benar-benar terbuka dan berkesan familiar walau sangat sederhana, hanya ada dua bangku panjang untuk duduk. Kebanyakan yang makan disini adalah para pedagang dan para tukang becak. Bagi yang bermobil mereka hanya membeli untuk dibawa pulang, mungkin mereka gengsi untuk makan bersama para tukang becak.
Pas tiba giliranku, aku segera pesan yang kuinginkan. Tiba-tiba aku melihat ada nenek tua renta sedang duduk makan dibangku panjang didekatku. Sambil menunggu pesananku dibungkus, aku duduk didekat nenek renta itu. Aku sungguh tertarik pada aura mukanya yang memancarkan cahaya yang luar biasa. Tidak sebagaimana yang kulihat pada nenek-nenek lain seusianya.
Ketertarikanku yang amat sangat untuk mengetahui nenek tua itu lebih lanjut, mengharuskanku pesan teh manis untuk kuminum, agar aku bisa berbincang-bincang dengan nenek tua itu.
“Assalamu’alaikum Nek” sapaku mendahului. “wa’alaikumussalam…wong ayuu…” jawabnya ramah sambil mengembangkan senyumnya. “Nek, apa sih resepnya sehat dan bugar diusia tua? Saya lihat nenek ini sudah tua, tapi kok sehat sekali?” Tanyaku membuka pembicaraan. “Oh ituu?…gampang kok wong ayuu..nenek ini sabar menerima takdir, emoh mengeluh, selalu bersyukur dengan apa yang diberikan sama Gusti Allah…bekerja! Bekerja dan bekerja! Orang asal tidak malas insya Allah biasanya banyak sehatnya wong ayuu..” begitu jawabnya sambil terus meneruskan makannya.
Aku benar-benar takjub. Nenek itu usianya sudah 80 tahun, tapi masih kuat menjadi kuli gendong dipasar besar dikotaku. Membantu ibu-ibu yang belanja dipasar dan tidak kuat membawa belanjaannya ketempat pangkalan becak atau ketempat angkutan umum mangkal. Ia tidak punya sanak saudara, tinggal seorang diri disebuah gubug tua, dan berjuang menghidupi dirinya sendiri dengan penuh optimisme dan dalam kebahagiaan yang amat sangat serta iman yang sungguh besar akan kasih sayang Allah kepadanya. Subhanallah…
Saya yang masih jauh lebih muda, sering mengeluh, kurang mensyukuri nikmat, merasa malu dan kalah dengan nenek tua yang sudah renta, namun PERKASA jiwanya, padahal keadaanku jauh lebih baik. Tinggal dikomplek perumahan, tidak pernah kehujanan dan kepanasan, Allah memberi riski kepadaku sekeluarga tidak harus sangat bersusah payah seperti nenek tersebut. Aku punya suami yang sangat menyayangiku, memijit kakiku disaat aku capai atau payah bekerja siang harinya. Yang selalu menemani dalam suka dan dukaku. Aku punya putri yang selalu menjadi semangatku ketika aku lemah harapanku.
Ya Allah ampunilah segala dosaku. Ampuni aku yang sering mengeluh dan kurang mensyukuri nikmatMu. Allah terima kasih telah Engkau hadirkan nenek tua ini kepadaku sehingga bisa menjadi cermin bagi hidupku. Nenek itu tak pernah lupa shalat dhuhanya, shalat tahajjutnya, dzikir diwaktu malam, makan dari harta yang halal dan thoyyib dari kerja kerasnya menjadi kuli gendong. Ia dicintai dan selalu dirindukan oleh ibu-ibu langganannya karena selalu ikhlas berapapun ibu-ibu memberi upah kepadanya ketika membawakan belanjaannya. Allah Hu Akbar.
Juga ia selalu dirindukan kepulangannya kegubug tua tempat tinggalnya oleh belasan kucing piaraannya digubugnya. Yang katanya semua lucu-lucu dan gemuk-gemuk karena nenek itu selalu membelikan kucing-kucing itu lauk yang lebih enak daripada yang dimakannya sendiri.. Tiap hari nenek itu selalu mencarikan kucing-kucing piaraannya air sumur yang cukup jauh dari gubugnya, karena semua kucingnya tidak doyan minum dari air PAM ? Ya Allah…Bahkan seminggu sekali nenek tua itu selalu membelikan susu untuk kucing-kucingnya sekalipun dirinya lebih membutuhkannya. Namun ia rela memberikan yang terbaik apa yang ia punya dan apa yang bisa diperbuatnya untuk makhluk selain dirinya.
Saya menangis terharu mendengar kisahnya. Diakhir perjumpaan kami, nenek itu mengatakan kalau ayahnya ternyata adalah seorang Sayyid. Subhanallah..Sebelum pulang kucium punggung tangan nenek itu sambil memohon doa beliau.. Mata tuanya berkaca-kaca penuh kebahagiaan. Pantas auranya berbinar, bening sebening berlian…karena beliau adalah putri seorang Sayyid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s