Kisah Mak Ijah peminta-minta…

Saya punya sahabat, seorang peminta-minta sebut saja namanya Mak Ijah. Waktu suaminya masih hidup, ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Suatu hari, suaminya terkena setrum sehingga meninggal. Mulai sejak itu kehidupannya berubah. Ia tidak lagi bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga, karena sangat repot. Dua anak kembarnya tidak mungkin ia ajak ikut bekerja. Ia merasa tidak enak kepada majikannya, dan juga tidak leluasa mengerjakan pekerjaannya. Apalagi masih balita. Dan ia juga dalam keadaan mengandung. Ia juga tidak enak tiap kali berangkat bekerja kedua anaknya dititipkan kepada tetangganya. Meskipun tetangganya tidak merasa keberatan dititipi anaknya, namun Mak Ijah lama-lama menjadi sungkan juga.

Mak Ijah sangat bingung. Ia tak punya sanak saudara. Hanya kepada Allah-lah setiap saat mengadukan nasibnya dan memohon pertolongan. Ia memohon petunjuk kepada Allah, dalam salah satu doanya ia meminta : “Ya Allah ampunilah dosaku, berilah hamba pertolongan-Mu apa yang harus hamba kerjakan agar hamba dan anak-anak hamba bisa makan? Ya Allah tolonglah hamba. Kabulkanlah doa hamba Ya Allah..Amiin.

Setelah selesai berdoa tiba-tiba melintas dalam pikirannya apakah sebaiknya ia menjadi pengemis saja? Suatu pekerjaan yang paling dibencinya sejak dulu. “Berdosakah aku jika aku bekerja sebagai pengemis? Astaghfirullahal adziim…mengapa aku berpikir serendah ini? Padahal aku masih muda dan tubuhku masih kuat dan sehat?”

Begitulah beberapa hari pikiran itu berkecamuk dalam hatinya silih berganti. Suatu hari salah satu dari anak kembarnya sakit, dan ia tak punya uang sama sekali untuk berobat. Badannya panas, setiap kali seperti mau kejang. Ia menangis sedih meratapi hidupnya, ia sangat menderita sepeninggal suaminya. Meskipun ketika suaminya hidup kehidupannya juga tidak pernah tercukupi kebutuhannya, namun setidaknya setiap hari ada penghasilan yang bisa diharapkan. Kini tak ada seorangpun yang bisa diajak berembug tentang segala kesulitan yang dihadapinya.

Akhirnya ia berhutang beberapa puluh ribu kepada tetangganya yang sama-sama bekerja sebagai pembantu rumah tangga, untuk membawa anaknya ke puskesmas. Sebab dibelikan obat di warung sudah tidak mempan lagi, bahkan anaknya makin menjadi lemah dan panasnya kian meninggi.

Ternyata anaknya terkena typus stadium tinggi. Untungnya segera dibawa ke puskesmas sehingga masih bisa tertolong jiwanya. Selebihnya ia menjadi berhutang kepada tetangganya dan sampai lama tidak bisa mengembalikannya. Ia menjadi sangat bersyukur walau merasa sungkan, ketika uang yang ia pinjam untuk membawa anaknya ke puskesmas dulu lalu dihibahkan oleh temannya kepadanya. Pertolongan Allah datangnya sering tak diduga-duga.

Mak Ijah tidak bisa berpikir terlalu lama, karena ia didesak oleh kebutuhan. Ia tak mungkin bekerja menjadi pembantu rumah tangga lagi karena repot. Ia juga tak mungkin berdagang karena tak ada modalnya dan anaknya masih kecil-kecil. Akhirnya Mak Ijah dengan sangat terpaksa menjadi pengemis. Iapun mohon ampun berkali-kali kepada Allah, mengapa ia harus menjadi pengemis.

Mak Ijah mengemis tidak dikotanya sendiri namun dikota lain. Saat pertama kali saya jumpa dia karena dia sedang meminta kerumah saya. Tampilannya lusuh, wajahnya lelah oleh penderitaan. Saya persilahkan dia masuk dan duduk di kursi tamu. Awalnya ia tidak mau masuk apalagi duduk di kursi tamu. Ia memilih duduk dilantai. Setelah saya membujuknya, baru ia mau duduk dikursi walau sepertinya jengah dan sungkan. Berkali-kali ia meminta maaf karena telah merepotkan saya. Waktu itu jam setengah satu siang. Saat terik-teriknya matahari bersinar. Saya buatkan teh manis yang tak terlalu panas, ia menangis. Katanya baru kali ini ada orang sebaik saya, yang mau mempersilahkan seorang pengemis masuk kerumahnya dan memberinya minum dan menghargainya. Ia merasa dihargai sebagai manusia. Sepertinya sejak saat itu terjalin pertalian batin antara saya dengan Mak Ijah.

Saya merasa apa yang saya lakukan adalah kewajiban dan kasih sayang kepada sesama. Dan selalu terngiang-ngiang ditelinga saya ceramah Pak Kyai di Masjid waktu Peringatan Maulud Nabi SAW, bahwa Allah menilai manusia adalah dari taqwanya. Saya selalu takut kepada Allah, takut sekali bila apa yang saya lakukan adalah tindakan dosa. Seperti apa yang saya lakukan kepada Mak Ijahpun karena saya takut kepada Allah.

Akhirnya antara saya dengan Mak Ijah terjalin persahabatan yang saling menguatkan. Dari kehidupan Mak Ijah saya bisa belajar bersyukur dan menghargai orang yang sedang susah. Mak Ijah selalu mampir kerumah setiap ia meminta-minta dikomplek tempat tinggal saya..

Sudah sebulan ini ia tidak muncul kerumah. “Kenapa ya?” pikir saya. Padahal biasanya setiap 2 minggu sekali selalu datang kerumah. Beras dan lain-lain pemberian yang sudah saya siapkan untuknya hampir saja saya berikan kepada orang lain ketika tiba-tiba ia muncul. Ia menangis sesenggukan ketika begitu datang saya tanyakan kok tidak bersama anak kembarnya.

Mak Ijah menceritakan, bahwa terakhir pulang dari rumah saya sebulan yang lalu, anak perempuannya yang kembar meninggal karena ketabrak truk. Saking gembiranya membawa baju-baju bekas anak saya yang saya berikan kepadanya, anaknya tidak mau digandeng Mak Ijah ketika menyeberang jalan. Sehingga terjadilah malapetaka itu. Saya menyesal, kenapa menjadi lantaran meninggalnya anak Mak Ijah. Coba seandainya saya tidak memberinya baju-baju bekas yang  sangat menyenangkan hati anak Mak Ijah, mungkin anak itu masih dalam genggaman tangan Mak Ijah saat menyeberang jalan, sehingga tidak terjadi malapetaka itu. Saya dengan tulus meminta maaf kepada Mak Ijah. Namun Mak Ijah tidak berpikiran demikian. Semua adalah sudah menjadi kehendak Allah. “Ibu tidak usah menyesal Bu, semua sudah menjadi kehendak Allah, sayapun sudah ikhlas anak saya meninggal” katanya pada saya. “Mungkin Allah sayang kepada saya, agar saya tidak terlalu banyak beban jadi diambilnya anak saya Bu” sambungnya kemudian.

Saya malu kepada Mak Ijah, walaupun kehidupannya sangat penuh keterbatasan dan kekurangan, namun Mak Ijah pantang menyerah, punya kepasrahan yang tinggi kepada Allah, dan selalu mensyukuri apapun keadaannya. Kedatangannya yang terakhir kepada saya bukan untuk meminta-minta, melainkan untuk memberitahu, bahwa sekarang ia tidak mengemis lagi tapi sudah bekerja kembali sebagai pembantu rumah tangga lagi. Katanya ia malu kepada Allah, dan katanya tidak ada alasan lagi dihadapan Allah untuk bekerja sebagai peminta-minta, karena anaknya sudah ia titipkan di Panti Asuhan Yatim Piatu, sehingga dirinya tidak repot lagi. Anak kembarnya yang satu lagi sudah meninggal sejak lama, dan yang satu lagi sudah diambil oleh Allah SWT.

Semoga bisa menjadi hikmah bagi kita, serta menambah syukur kita ke Hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kepada kita nikmat dan karuniaNya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s