Kisah balasan perbuatan buruk..

Kisah  perbuatan buruk berbalas.

Di sebuah jalan raya, terlihat seorang pemuda belia sedang memukuli seorang laki-laki tua dengan membabi buta. Pemuda itu berotot kuat, berkulit coklat, di tangannya tergenggam sebuah tongkat keras, yang dia gunakan untuk memukuli orang tua itu.

Orang tua itu berbadan sangat kurus, diam saja, tidak mengaduh dan tidak berusaha meminta pertolongan. Orang-orang yang berkerumun  di sekitarnya heran, dan bermaksud hendak menolongnya.

Salah seorang diantara mereka bertanya kepada pemuda itu , “Mengapa kamu memukuli orang tua malang ini? Tidakkah kamu takut kepada Allah” Orang yang lainnya bertanya, “Apa yang telah diperbuatnya kepadamu sehingga kamu memukulinya seperti ini anak muda?”

Namun pemuda it u terus memukuli orang tua itu tanpa sedikitpun mendengarkan pertanyaan orang-orang yang berkerumun. Diantara mereka yang berkerumun ada lagi yang bertanya, “Tidakkah kamu takut jika ada orang yang memukuli ayahmu seperti ini?”

Salah seorang yang ada diantara mereka berkata, “Sebaiknya kita adukan saja pemuda ini kepada ayahnya, supaya ditegur dan dimarahinya. Siapa yang tahu rumahnya?”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang baru saja datang  tergopoh-gopoh, wajahnya penuh kewibaan. Dia berkata dengan tenang , “Aku tahu pemuda ini, aku juga tahu siapa ayahnya.  Sesungguhnya pemuda ini sedang memukuli ayahnya sendiri. Orang tua malang yang dipukulinya ini adalah ayahnya sendiri.” Mendengar hal itu semua yang ada diantara mereka tercengang, raut wajah mereka berubah karena keheranan yang amat sangat.

Sungguh aneh, bagaimana mungkin ada seorang anak yang tega memukuli ayahnya sendiri dengan kejam seperti ini? Mereka pun lalu menyerang pemuda itu dengan geramnya dan berusaha  membebaskan sang ayah dari pukulan anaknya. Namun sambil menahan kesakitannya akibat dipukuli oleh anaknya  itu berkata,”Biarkan aku, sungguh Allah Ta’ala telah membalasku. Dulu ketika aku masih muda seumur anakku, aku pernah memukuli ayahku sama seperti apa yang dilakukan anakku  ini, hanya karena dia meminta sebagian uang dariku.”

Orang-orang merasa takjub karena keadilan Allah Ta’ala. Allah berfirman, artinya, ”Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Fushshilat: 46). (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 130-131).

Sumber  Artikel dari Kisah Muslim. Dinukil dari “Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga”, karya Ghalib bin Sulaiman bin Su’ud al-Harbi. Edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta. alsofwah.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s