Bertemu “Khidir”yang pertama (Bag 1)

Met jumpa lagi sobat, semoga siang ini Anda masih tetep sehat wal’afiat bersama keluarga Anda, dan apabila ada yang sedang sakit saya doakan semoga lekas mendapat kesembuhan dari Alloh SWT, apabila Anda sedang dirundung musibah semoga Anda dapat menerimanya dengan sabar dan tawakkal, dan apabila Anda sedang dirundung sedih semoga Alloh menghibur Anda dengan segala kasih sayangNya. Amien Ya Robbal Alamin.

Sahabat  yang  saya kasihi dimanapun Anda berada…

Ketika saya sedang  menyempurnakan konten dari  website saya www.niniekss.com , tiba-tiba saya ingin membagi pengalaman saya ketika saya bertemu dengan ‘sosok ghoib’ yang pada akhirnya saya yakini beliau adalah Nabi Khidir As, yang sering diperbincangkan orang, yang masih menjadi perdebatan pro dan kontra keberadaannya.

Keyakinan saya tentu saja berdasarkan riset yang panyang, bertahun-tahun melalui proses pemahaman keimanan dan metafisika yang saya peroleh dalam perjalanan waktu yang saya lalui selama ini.

Kuteruskan soal Khidir ya?

Tahun 1992 adalah masa yang paling tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya ! karena waktu itu saya merasa didunia ini hanya ada saya dengan Alloh SWT.

Bagaimana bisa demikian? Waktu itu saya benar-benar TERBUANG ! Karena waktu itu saya HIJRAH dari agama kristen kembali ke agama semula saya ISLAM yang agung..

Melalui pertolongan Cak Nun (Emha Ainun Najib) akhirnya saya berhasil mondok di Pesantren Putri Zaennab Shidiq Jember…setelah sebelumnya saya diberi sepucuk surat rekomendasi dari Cak Nun untuk menghadap Bapak Kyai Hassan Sahal di Pondok Pesantren Putri Gontor Ponorogo.(Maaf saya lupa deh namanya…)

Saya diantar oleh Beliau Pak Kyai Sahal dengan kendaraan kijangnya untuk meninjau 3 pondok pesantren putri yang beliau kelola waktu itu. Satu persatu saya amati dari masing-masing pondok putri yang kami datangi.

Saya bingung ketika Pak Kyai Sahal bertanya sepulang dari ketiga tempat itu : “Mbak…sampeyan mau milih mondok dimana? ” Saya sangat bingung untuk menjawabnya karena dari ketiga pondok putri yang saya datangi itu ternyata saya tak mampu menangkap perbedaan maupun kelebihan satu atas yang lainnya.

Mana yang harus saya pilih? Apanya? karena ketiganya punya nuansa yang hampir sama saja ! Yah begitulah suasana pondok, dimana mana terkesan sama, kederhanaan dan ketidakteraturan..

Rupanya Pak Kyai Sahal yang arif itu mampu menangkap kebingunganku..Tiba-tiba beliau bertanya : “Mbak, sampeyan sudah bisa baca Al Qur’an belum?” Saya menjawab serta merta dengan penuh kejujuran : “Belum pak Kyai” (dengan bahasa jawa yang medhok dan dalam adab yang sangat sopan, saya memang sangat menghormati para ulama yang saya temui,saya sangat takut akan azab Alloh kalau saya sampai berlaku tidak sopan kepada para kekasihNya ).

Dengan jawaban saya yang jujur itu, diluar dugaan,  sepertinya Pak Kyai sangat kecewa dengan saya karena belum bisa membaca Al Qur’an. Akhirnya sayapun disuruh kembali kepada Cak Nun, dengan pesan, agar belajar baca Al Qur’an dulu kepada Cak Nun nanti kalau sudah bisa membaca Al Qur’an supaya kembali lagi kepada beliau.

Sayapun kembali menemui Cak Nun dan menyampaikan pesan Pak Kyai Sahal apa adanya. Waktu itu Cak Nun bertanya kepadaku begini : ‘Sampeyan mau gak nek tak kirim keseluruh Indonesia?’ (maksudnya mungkin kemanapun daerah diseluruh Indonesia yang akan dipilih Cak Nun untuk mengirimku kesana). ‘Saya siap Cak !’ jawabku penuh semangat.

Lalu Cak Nun kembali menyuruhku untuk menemui seseorang di daerah Jember, Jawa Timur. Cak Nun membekali saya dengan sepucuk surat dan uang yang waktu itu untuk transport naik bis sampai ke Jember…

Singkat kata akhirnya sampailah saya ke Jember, dan alhamdulillah berhasil menemui alamat yang ditunjukkan oleh Cak Nun. Dirumah sahabat Cak Nun ini saya ada kurang lebih sebulan, saya belum tahu apa yang harus saya perbuat disana.. Kebetulan sahabat Cak Nun ini orangnya sangat baik, tapi entahlah mengapa selalu menahanku setiap kali saya akan mencari informasi tentang Pondok Pesantren Putri yang kubutuhkan.

Akhirnya sayapun nekad. Tanpa sepengetahuannya saya keluar jalan-jalan, memang sengaja hari itu saya mau mencari info tentang pondok pesantren.

Alhamdulillah hari itu juga saya menemukan pondok yang saya cari, ialah Pondok Pesantren Putri Zaennab Shidiq dibilangan pasar Tanjung tempatnya.

Saya mondok disitu ada kurang lebih satu tahun lamanya. Banyak hal yang saya serap dan pelajari disana. (Lain kali saya akan bagikan suka duka berada di pondok pesantren Ya sobat? )

Oh ya…Suatu hari…Saya merencanakan akan pergi menemui orangtua dari teman mondok saya, dirumahnya, daerah lumajang.Untuk mengutip premi asuransi. Saya sudah berkunjung sebelumnya, orangtua teman saya tertarik untuk mengambil polis Asuransi melalui saya. ( Waktu itu saya mondok, namun mendapat ijin dari Ibu Nyai Pondok untuk sambil bekerja diluar pondok, saya waktu itu sebagai Agen Asuransi Bumi Putra Jember ).Nah waktupun telah kami tetapkan bersama, kapan pembayaran premi akan dilaksanakan.

Waktu yang telah kami tetapkanpun tiba. Tapi pada hari ‘H’nya saya tak punya uang sepeserpun untuk bepergian. Wah dilematis sekali waktu itu. Saya paling tidak suka ingkar janji, tapi gimana dong mau pergi tidak ada uang?

Alhamdulillah pagi-pagi sekali setelah turun jamaah sholat subuh, ibu Nyai tiba-tiba menghampiri saya, saya pikir saya punya salah apa, kenapa Ibu Nyai mau menghampiri saya?  Tidak tahunya saya ditanya : “Mbak Nien jadi mau ke lumajang gak?” (dalam bahasa jawa krama inggil kepada saya). Wah saya juga bingung mau menjawab apa? kalau saya jawab ‘jadi’ dengan apa saya mau berangkat, uang saja tidak punya? Tapi kalau saya jawab ‘tidak’ apa alasan saya?

Hubungan saya dengan Ibu Nyai dekat sekali karena saya sering memijat ibu apabila ibu kurang enak badan..kata beliau pijatan saya enak sekali (eh narsis sedikit kan tidak apa-apa to? , memang terbukti kok belum sampai selesai setiap kali saya memijat, beliau selalu saja sudah ketiduran he..he..).Dalam kedekatanku ini kami sering saling curhat tentang masalah-masalah yang terjadi diseputar pondok.

Karena ditanya saya lama tidak menjawab, maka Ibu Nyai berkata : “Mbak, kalau mbak Nien mau pergi tidak punya uang, bisa pakai uang ibu dulu kok, jangan dibatalkan perginya, ini menyangkut janji dan soal rizky, jadi baiknya mbak Nien berangkat saja’. Pucuk dicinta ulampun tiba.

Akhirnya dengan ‘semangat 45′ pun berangkatlah saya menuju ke Lumajang rumah teman saya. Sepanjang perjalanan hati saya berbunga-bunga membayangkan komisi yang akan saya terima nanti jika orang tua dari teman saya jadi membayar premi asuransi seperti yang dijanjikan dalam pertemuan sebelumnya.

Hampir tiga jam perjalanan dari Jember kerumah teman saya tak saya rasakan. Sesampai dirumah teman saya, saya disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sampailah waktu yang saya tunggu-tunggu. Bapak teman saya memanggil saya untuk membicarakan asuransi. Saya sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Saya sudah tidak sabar menunggu Bapak teman saya mengambil uangnya dan menyerahkannya kepada saya sebagai pembayaran preminya.

Alangkah kecewanya saya ketika Bapak teman saya meminta maaf bahwa pembayaran preminya terpaksa ditunda karena beliau harus membayar kekurangan dana ONH (Ongkos Naik Haji). Awalnya Bapak teman saya mau berangkat sendiri, tetapi belakangan isterinya mau ikut serta sekalian, jadinya uang yang sedianya mau untuk membayar premi terpaksa ditunda.

Saya sangat kecewa sebenarnya, tetapi kekecewaan itu segera saya tepis jauh-jauh. Bukankah naik haji adalah tujuan yang sangat mulia, tujuan yang sangat dirindukan oleh setiap orang muslim, mampu maupun tidak tetap mempunyai kerinduan untuk bisa sampai ke Mekah bukan? Mengapa saya harus egois? harus kecewa? bukankah saya harus mendukungnya siapapun orangnya yang hendak berangkat? Sayapun sangatingin suatu saat nanti bisa naik haji. Insya Allah…

Saya pulang dengan lemas. Namun dihadapan orangtua teman saya dan dimuka teman sayapun saya berusaha untuk menutupi kekecewaan saya. Dalam perjalanan pulang keadaannya 180 derajat dari sewaktu berangkat tadi. Lemas..

Stop sebentar disini sobat….!!!

Belum lima menit saya naik angkot..waktu itu saya naik kendaraan L300..dan saya memilih duduk didepan walau sebetulnya dibelakang masih longgar tempat duduknya. Entahlah saya selalu memilih tempat didepan apabila naik kendaraan umum sampai sekarang ! Lha iyalah Yauw..karena kalau didepan kan bisa melihat pemandangan lebih leluasa. Ya kan?

Tiba-tiba ada anak muda yang nyetop (menghentikan kendaraan yang saya tumpangi )..Usianya tak lebih 25 tahun kira-kira. Dia memilih duduk disamping saya.. Aneh, sebelum membuka pintu kendaraan dia mengucapkan salam dulu..’Assalamu’alaikum…’ Saya balas salamnya ‘Waalaikumussallam…’

Pada pertama kali jumpa saya sudah merasa aneh dengan salamnya, karena tidak lazim di Indonesia selama ini, ada orang mau duduk disamping kita dalam kendaraan umum mengucapkan salam lebih dulu.

Kesan saya yang lain merasa aneh mengapa memilih tempat disebelah saya, bukan dibelakang? Bukankah dibelakang masih banyak tempat yang masih kosong? Apakah dia sama dengan saya sukanya duduk disebelah depan?

Ah pusing amat mikirin dia. Nafsi-nafsi…he..he..

Kesan saya terhadap anak muda itu, kumuh dekil, baunya sangat amis, oh ternyata setelah saya perhatikan mau amis itu berasal dari eksim dikedua punggung tangannya yang membusuk bernanah. Luka itu melingkar sebesar tutup gelas kedua-duanya. Saya mau muntah rasanya…

Tiba-tiba saya ingat bahwa Alloh menilai manusia bukan dari tampilan fisiknya, tetapi Alloh melihat dari taqwanya. Astghfirullahaladziim…saya segera istighfar dan sungguh-sungguh mohon ampun kepada Alloh SWT. atas kekhilafan saya ini.

Tiba-tiba anak muda ini berkata : “Mbak sampeyan ini kok kasihan benar..sepanjang hidup sampeyan selalu menderita, tak pernah seneng…tapi tak apalah..nanti sampai di jember sampeyan gampang kalau mau cari uang banyak. Bahkan sampeyan sebelum umur 39 tahun sudah harus menolong orang. Sampeyan nanti bakal didatangi banyak orang, bahkan sampeyan sepulang ke pondok nanti sudah harus menolong orang’ katanya.

Saya menjawab ngeyel semaunya : ‘ Wealah..sampeyan ini baru aja kenal dengan saya kok sudah meramal yang bukan-bukan to mas? memangnya sampeyan ini tukang ramal ya?’ (walau dalam hati saya jujur saja sangat takjub atas semua apa yang disampaikan kepada saya, karena semuanya benar, tak ada satupun yang salah).

‘Benar mbak. Semua yang saya sampaikan kepada sampeyan adalah sebuah kebenaran..jadi percayalah sama saya..’ katanya kepada saya.

Oh ya saya lalu bertanya kepadanya :’Mas, sampeyan rumahnya mana? apa ditempat  tadi yang sampeyan nyetop kendaraan ini ya?’ Saya penasaran. Dia menjawab :’Oh bukan. Saya akrab dengan semua penghuni lautan mbak..Saya bertanya lagi makin penasaran :”Oh..sampeyan nelayan ya?” Dia tersenyum dan menjawab lagi : ‘ Bukan mbak…saya ini mengenal seluruh penghuni lautan satu persatu dan saya akrab dengan semuanya…’

Ah saya pusing mendengarkan uraiannya. Saya waktu itu belum mengetahui bahwa Khidir adalah seorang nabi yang akrab dengan seluruh penghuni lautan karena memang hidup beliau adalah konon ditepi laut.

Saya lalu bilang :’O sampeyan ini manusia dari planet mars apa? kok aneh-aneh saja yang sampeyan katakan.’Tidak mbak..saya manusia biasa, tapi saya suka menolong orang yang menderita seperti sampeyan ini’ katanya kepada saya.

Dia lalu mengatakan kepada saya bahwa didunia ini ada ilmu cahaya…ilmu jalan lurus…dan ilmu tentang air….

Dia bilang lagi…Sampeyan akan bisa menguasai ilmu-ilmu ini, asal sampeyan tetap bisa mempertahankan keimanan yang sampeyan punyai sekarang ini, dan sekali-kali janganlah kita meninggalkan sholat…!!!pesannya.

Dia menyampaikan nasehatnya itu dengan penuh penekanan ketika mengatakan kata ‘sholat’. Bulu kuduk saya berdiri ketika menulis ini ingat akan peristiwa itu.

Lanjut Ya Sobat…?

Tiba-tiba terdengar suara kenek :’Arisan…arisan!..’ Maksudnya dia meminta ongkos. Langsung saya berikan uang kepada kenek itu sambil bilang :’Dua mas’..Kenek itu bertanya :’dua dengan siapa mbak?’ Saya menjawab :’Ya dengan masnya ini to yang duduk disamping saya ini, sambil tangan saya menunjuk kearah anak muda yang ada disamping saya.

Kenek itu seperti bengong,dan saya hanya harus membayar untuk satu orang. Anak muda itu tidak ditarik bayaran, alias gratis. Lalu anak muda itu bertanya kepada saya :’Mbak sampeyan itu mbayarin siapa?’ Saya bilang :’Ya mbayarin sampeyan itu to? kasihan, sepertinya tidak bawa uang ya? saya menjawabnya sambil bercanda. Anak muda itu berkata kembali :’Mbak..mbak..saya ini mau ke Mekah sehari tujuh kali tidak bakal saya ditarik bayaran.’ Rupanya anak muda itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali yang dia kehendaki.Wallohua’lam.

Setelah itu sayapun mulai berhati-hati dan menempatkan diri.Sayapun mulai bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya anak muda itu?

Dari rumah teman saya sampai ke Jember naik kendaraannya berganti empat kali. Sampai ke terminal Tawang Alun Jember anak muda itu terus membuntuti saya, sampai saya tak enak sendiri.  Punya maksud apa sebenarnya anak muda ini terhadap diri saya?.

Ketika berada diterminal Tawang Alun, anak muda itu turun dari kendaraan yang kami tumpangi, saya mengikuti dibelakangnya untuk turun juga. Dia bilang : ‘Mbak..tunggu saya disini ya? sampeyan jangan kemana-mana. tolong tunggulah saya disini sebentar, saya mau kekamar kecil, sebentar saja’

Saya seperti di hipnotis waktu itu,  seolah tak berdaya untuk menolak permintaannya. Ketika dia pergi menuju kekamar kecil, sayapun duduk dikursi tempat tunggu para penumpang bus. Mata saya mengikuti kearah perginya anak muda itu. Dia saya lihat memang masuk kesalah satu kamar kecil yang ada disitu. Mata saya sekejabpun tidak lepas dari kamar kecil itu.

Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpakaian putih-putih keluar dari kamar kecil dimana anak muda tadi masuk. Dan pemuda yang berpakaian putih-putih itupun langkahnya jelas menghampiri saya, wajahnya bersinar cemerlang, dari arah beberapa meter sudah tercium wangi aroma dirinya..Wangi yang belum pernah kukenali sebelumnya..dan sepertinya wangi yang begitu asing didunia.

Saya berdiri gemetar menyambut kehadirannya. Wajahnya memang mirip dengan anak muda kumal yang sepanjang Lumajang Jember bersama satu kendaraan dengan saya tadi.Tapi nanah dikedua punggung tangannya sudah tidak ada, menghilang kemanakah gerangan?

Dia seperti memahami keterpanaan saya..Dia langsung mengajak saya untuk naik angkot yang menuju kejurusan pondok pesantren saya..Kali ini suasananya sudah lain. Saya tidak berani berkata-kata apapun. Ketika sampai dipertigaan jalan yang menuju ke tempat pondok pesantren saya, saya memberinya isyarah agar turun, karena telah sampai.

Dia mengatakan bahwa tujuannya hendak ziarah kemakam Kyai Shidiq, Ulama Sepuh Jember yang sangat kesohor.Sayapun memanggil dua becak, maksudnya satu untuk saya naiki,dan satunya lagi untuk mengantar anak muda itu ke makam Kyai Shidiq.Karena yang memanggil becak itu saya, maka saya bayar becak yang dia tumpangi.

Waktu itu pak becaknya meminta ongkos 300 perak. Saya masih ingat betul waktu itu uang saya 500 rupiah, ketika kembalian yang 200 itu saya terima, dimintanya sama anak muda itu sembari berkata : “Mbak, saya minta ikhlasnya kembalian ini ya? ini bukan untuk saya tapi untuk sampean. Agar saya bisa selalu mendoakan sampeyan sampai kapanpun dan dimanapun sampeyan berada”.

Oke saya putus sampai disini dulu ya sobat? cerita saya belum usai nih tunggu lanjutannya besuk ya? Lebih seruu lho…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s