Bertemu Khidir yang ke-2

Pagi itu,

Seperti biasanya, sehabis shalat tahajjud aku tidur sebentar, lalu bangun lagi untuk shalat fajar sebelum subuh..Mas Toto suamiku belum selesai dzikirnya. Alhamdulillah aku sudah selesai shalat subuh, ketika diluar kudengar ada yang assalamu’alaikum. Suara seorang laki-laki. Kujawab salamnya. Heran sepagi ini sudah ada tamu yang datang. Karena suaranya dari arah warung, kupikir ia seseorang yang mau membeli sesuatu di pagi buta di warungku.

Aku berjalan tergopoh-gopoh kearah warung. Sebenarnya tak layak disebut sebuah warung, karena adanya hanya beberapa kilogram gula pasir, beberapa bungkus teh celup sariwangi, beberapa batang sabun mandi, dan semuanya hanya beberapa. Daripada tak ada kegiatan, kebutuhan rumah tangga untuk sehari-hari itu aku tata di etalase bekas, dan aku letakkan di warung, yang terletak diruangan sebelah kiri rumah. Kebetulan rumah kontrakan kami di sebelahnya ada warungnya, ya sudah aku tata saja disana, kalau ada tetangga yang membutuhkannya, kujual. Tapi ya ada saja yang membeli. Aku tak berniat membuka warung karena tak punya modal, dan lagi aku tidak telaten usaha warung. Aku lebih suka melayani pelanggan jamuku, orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan.

“Assalamu’alaikum…”.Salam itu kembali terdengar.” Wa’alaikumussalam…” balasku. Mungkin tadi balas salamku tak kedengaran oleh tamu itu. Kubuka pintu warung yang terbuat dari lembaran papan yang dijajar.

“Oh Bapak…kok pagi-pagi sudah ke warung pak, apa yang bisa saya bantu..?” Tanyaku kepada tamu itu. Seorang peminta-minta tua, lusuh memakai tongkat dan tanpa alas kaki. Mengenakan sarung kumal dan baju putih lengan panjang yang sudah lusuh pula. Sikapnya sangat santun dan kilatan matanya bagai pedang, namun amat teduh. Aku terkesima, tapi tak mampu menduga-duga siapakah gerangan bapak ini.

“Bu maafkan saya, pagi-pagi telah mengganggu…saya kehausan Bu, kalau boleh mau minta minum teh manis yang hangat, tenggorokan saya sangat kering Bu, tadi mau minta diwarung sana tidak diberi…” Katanya.

“Oh boleh Pak, silahkan, tidak apa-apa Pak, sebentar ya Pak saya buatkan..” Kataku ikhlas. “Tapi silahkan masuk Pak, duduk dulu” kupersilahkan bapak tua itu masuk sebelum aku membuatkan minuman untuknya.”Terima kasih Bu, saya diluar saja”katanya, sambil langsung duduk di bangku panjang yang sengaja ku letakkan di depan warung untuk duduk orang-orang yang pada belanja diwarungku.Tak lama kemudian segelas teh manis panas sudah terhidang.Sepertinya bapak tua itu sangat menikmati teh buatanku.”Terima kasih sekali ya Bu tehnya, enak..” katanya memuji. “Ya Pak, sama-sama, saya juga terima kasih bapak mau minum teh saya.” jawabku. Kulihat sebentar saja gelasnya sudah kosong, rupanya bapak tua itu benar-benar haus.

Dalam hati aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah, pagi-pagi buta sudah memberiku kesempatan untuk berbuat kebaikan kepada seseorang. Tiba-tiba bapak tua itu menyodorkan gelas kosong itu kepadaku sambil ujarnya : “Bu, maaf, boleh minta lagi tehnya tidak? Saya masih haus Bu..”, “Oh boleh-boleh, sebentar ya pak, saya buatkan tehnya lagi” lalu kusodorkan teh yang ke dua. Eh bapak itu dengan santainya bilang :”Bu, maaf, apakah teh ini tidak ada temannya?”.”Maksud Bapak?” tanyaku kemudian kurang mengerti maksudnya. “Barangkali ibu punya sarapan Bu, saya lapar sekali..” “Wah maaf sekali Pak saya baru mau nanak nasi. Kalau bapak mau, ada tuh kue pia, tapi maaf sekali kalau nasi memang belum ada pak”jawabku jujur. Aku merasa sangat kecewa tidak dapat memberi bapak itu nasi yang diminta. “Yah pia juga tidak apa-apa Bu, Alhamdulillah…” kata bapak itu kemudian.

Lalu kuambil kue pia itu 3 biji sisa yang ada di warung. Dilahapnya hingga habis oleh Bapak itu, malah masih minta tambah minum lagi, jadi habis tiga gelas. Aku terheran-heran dengan bapak tua itu, yang begitu lahap menghabiskan tiga pia besar dan tiga gelas teh. “Bu, Alhamdulillah saya sudah kenyang, ini semua habisnya berapa Bu?” Saya kaget ketika bapak tua itu bertanya bergitu. “Lho saya memberi  ikhlas kok pak, jadi tak usah bayar, malah saya bersyukur pagi-pagi bapak sudah memberi saya kesempatan beramal” balasku tulus.

“Alhamdulillah kalau begitu Bu, tapi kalau saya harus membayar, sayapun tak punya uang, saya hanya punya handuk ini satu-satunya kalau ibu mau..” berkata begitu bapak itu sambil melepas handuk kumuh yang dikalungkannya di lehernya dan diserahkannya kepadaku. “Melihat handuk kumuh yang diberikannya kepadaku, aku menolaknya dengan halus. “Maaf pak, bukan saya menolak rizki, tapi bapak kan masih hendak meneruskan perjalanan, kalau handuk itu untuk saya, nanti kalau bapak membutuhkan dijalan bagaimana? Jadi sebaiknya handuk itu untuk bapak saja” kilahku.

“Baiklah kalau ibu tidak mau ya tidak apa-apa, lalu sebagai gantinya kalau ibu tidak mau handuk ini, ibu mau minta apa dari saya?” Tanyanya kemudian, namun bapak itu tidak kecewa karena saya menolak pemberiannya. “Saya tidak minta apa-apa Pak, saya insya Allah ikhlas kok, kalau Bapak mau tolong doakan saya agar selamat dunia akherat saja, dan agar saya selalu mendapat ridhoNya..”

“Wah permintaan ibu luar biasa Bu..insya Allah saya doakan” selesai ia mengatakan itu tiba-tiba saja ia mengusap langit-langit mulutnya, dengan ibu jarinya lalu diusapkan pada sekeliling gelas bekas minumnya dan mulai berdoa dengan mendongakkan kepalanya keatas dan kedua tangannya menengadah keatas. Doanya memakai bahasa Arab yang aku tidak tahu maknanya, namun banyak shalawatnya (karena aku mengenal beberapa shalawat, jadi aku tahu ketika bapak itu membaca shalawat.)

Yang membuatku terkesiap adalah ketika bapak itu hendak mengusap langit-langit mulutnya, yang lalu diusapkannya ke gelas bekas minumnya tadi, kulihat jempol ibu jari tangannya tidak bertulang ! (konon ini adalah salah satu ciri khas Nabi Khidir). Seketika aku jongkok mengamini doanya. Ada satu ucapannya yang hingga kini tak bisa kulupakan adalah : “Orang yang kalau didunianya ringan melakukan kebaikan ya besuk diakheratnya juga digampangkan oleh Allah segala urusannya. Amiin Ya Robb.

Sebelumnya aku sudah menemukan beberapa keanehan-keanehan yang ada dalam diri bapak itu. Bapak itu mengatakan bahwa rumahnya adalah selatan desa Ngawu-awu. Padahal Ngawu-awu adalah desa paling selatan di kabupaten Purworejo kotaku. Dan sebelah selatannya sudah laut selatan. Kalau begitu tempat tinggalnya adalah di laut selatan. Pagi-pagi buta adalah saat yang tidak lazim untuk bertamu. Minta minum sampai tiga kali. Berdoa dengan sebelumnya mengusapkan ibu jari tangannya kelangit-langit mulutnya. Pandangan matanya sangat tajam bagaikan kilatan pedang.

Setelah lama mendoakanku, bapak itu minta pamit padaku, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Hanya beberapa detik ia pamit, seolah seperti ditelan bumi, dicari kemana-mana tidak ketemu, padahal depan rumah adalah jalan raya dan lapang, jadi seseorang mau kemana bisa dilihat dari rumah. Bapak itu menghilang tak berbekas. Subhanallah Allah Hu Akbar. Semua wallahu’alam…Semoga ini suatu kebenaran adanya.

Begitulah kisah pertemuanku yang ke-2 in Sya Allah  dengan Nabi Khidir As.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s